STORY : Tiga Aturan Dari Bunda

Posted on

tiga_pesan_bundaSeorang anak perempuan terdengar menangis dari balik pintu yang menutup rapat. Suaranya perlahan lahan semakin menjadi dan mengalahkan detak jantung jam yang berdiri tegak tepat di ruang tamu. Sudah dari tengah hari tadi pintu itu tidak menunjukkan akan terbuka. Tidak untuk mengganggu, seorang wanita tua mengetuknya pelan.

(tok..tok..tok…suara pintu diketuk)

 

Tidak terdengar adanya sahutan. Lalu ia mencoba untuk kedua kalinya.

(tok..tok..tok…suara pintu diketuk)

Terdengarlah suara gadis yang ingin dimanja dari balik pintu itu. Sekali lagi bukan bermaksud mengganggu, wanita paruh baya itu terlihat memaksa masuk. Dan dengan usaha yang cukup kuat, ia berhasil masuk juga. Entah ada apa didalam sana yang jelas pintu itu tertutup lagi. Lebih rapat. Yang tersisa hanya suara sayup – sayup yang berasal dari balik pintu itu.

Entah pembicaraan apa yang dilakukan, yang jelas ini pembicaraan yang tidak biasanya.

“Aturan pertama, jangan terlalu mencintai seseorang berlebihan. Cintai saja secukupnya. Cintai ia sesuai takarannya. Jangan pernah mencintai ia seperti kau mencintai Tuhanmu. Kenapa ? Karena sewaktu – waktu ia bisa saja menyakitimu dan kamu akan sangat membencinya lebih dari apa yang kau bayangkan.”

Hmm…ada apa didalam ? Aku semakin penasaran saja.

“Yang kedua, kamu tidak pernah sendiri. Tuhanmu selalu bersamamu. Ketika kau senang bahkan ketika kau sedih. Kau kadang lupa padanya ketika kau bersuka ria tapi ingat ketika kau sedih seperti ini. Kamu harusnya malu ! Tapi sudahlah, Tuhanmu itu maha baik. Jika kau merasa sendiri, ingatlah DIA.”

Aduh, apalagi ini ? Semakin bingung saja. Membicarakan yang sepertinya tidak biasa dibicarakan.

“Aturan terakhir, tidak ada satupun yang kebetulan di dunia ini. Semuanya adalah kehendak Tuhanmu. Apa yang terjadi, maka pasti akan terjadi meskipun kau mencoba untuk menghindarinya sekuat tenaga. Maka apapun yang kau alami, syukuri dan nikmati.”

Dan keluarlah wanita paruh baya itu dari balik pintu yang sedari tadi tertutup rapat.

“Bu, apa yang terjadi ?”- 

“Tidak ada apa apa Yah, Ibu hanya sedang menasehati anak kita yang baru putus cinta !” – jawabnya. Kemudian ia pergi sambil membawa setumpuk pakaian yang hendak di cuci.

Aku tidak pernah salah menikahinya, hatiku bergumam.


Ditulis pada hari Kamis,
Publish : 7 Agustus 2014, 19:02

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s