Story : I Love You Too. . .

Posted on Updated on

Je_taime_pour“When you loves someone, just be brave to say” – 

Sebuah cerita dua insan manusia. Sebut saja namanya Awan untuk laki-laki hebat tetapi sederhana. Dan namanya Pelangi, untuk perempuan yang setiap hari bermain dengan bunga – bunga di taman yang ada dipusat kota itu. Keduanya saling mengenal tidak cukup lama, tapi keduanya tahu bagaimana mengendalikan diri ketika saling berjumpa dan saling bertatap muka.

Awan, laki – laki yang terlahir dari keluarga biasa saja. Dan pendidikannya tidak terlalu tinggi. Tetapi dengan semangat ia menjaring matahari ketika orang lain masih terpejam dan menimang – nimang bayi mereka. Berbeda dengan Pelangi, perempuan manja yang memiliki latar belakang darah biru. Memiliki hobi yang sama seperti perempuan pada umumnya, yakni mengoleksi berbagai macam bunga.

Pertemuan Awan dan Pelangi begitu singkat, sehingga mereka tidak dapat menceritakannya jika ditanyakan lagi.

Yang namanya laki – laki, jika merasa nyaman maka ia akan menyimpan hati. Begitu juga yang terjadi dengan Awan. Diam – diam ia menyimpan hati terhadap pelangi. Ia gundah dan begitu kebingungan, apakah rasa ini harus ia sampaikan atau hanya dipendam saja ? Dengan segala keterbatasannya, akhirnya ia memilih waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.

Sebagai seorang laki – laki, Awan memiliki inisiatif untuk mendekatkan diri dengan wanita idamannya itu. Siapa lagi kalau bukan Pelangi. Ia sadar betul kalau laki – laki diciptakan untuk melindungi perempuan. Dan atas kudratnya itulah, ia menunjukkan kasih sayangnya pada Pelangi lewat perbuatan. Lambat laun ia mencoba mengaplikasikan diri dengan keadaan sekitar Pelangi. Ia selalu mencoba untuk hadir dalam kesempatan dimana Pelangi ada disitu. Sebuah kebiasaan yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Kaku ? Ya ! Pertama kali berbincang dengan orang yang kau cintai pasti merasa bergetar hati ini. Perlahan namun pasti, ia menyesuaikan diri dengan hal yang tidak biasa. Hidup diantara warna bunga dan cahaya murni yang dipancarkan oleh seorang perempuan memang kadang menyilaukan mata.

Lama sudah ia mengorbankan waktu, fikiran serta daya yang ia miliki untuk mendapatkan hati sang pujaan. Hingga satu saat Awan mengutarakan hatinya pada Pelangi,

Pelangi, I Love you !” – Ujar Awan pelan. Tapi Pelangi hanya tersenyum dan diam saja tak berucap. Melihat hal itu, Awan merasa ada yang salah. Apakah ini terlalu cepat ? Apakah aku tidak menarik ? Tetapi senyum Pelangi cukup menenangkan Awan. Dan ia yakin kalau senyuman itu adalah jawabannya. Hanya saja, itu belum pasti.

Sudah berapa kali Awan mengucapkan “I Love You” pada Pelangi, namun respon yang sama selalu ia dapatkan. Ekspektasi untuk mendengar kata balasan dari “I Love You Too..”  sepertinya terlalu tinggi. Tapi ia tetap bersabar. Baginya, menjadi laki – laki baik tidak masalah meskipun hatinya sebenarnya ingin mendapatkan apa yang diimpikan. Baginya, laki – laki baik akan menjadi nilai tersendiri bagi seorang perempuan. Mungkin hari ini ia tidak mengucapkan “Love You Too..” , tapi kelak ia akan.

* * *

Hampir beberapa waktu Awan menunggu jawaban itu dari Pelangi, tetapi setiap ia mengutarakan hal itu selalu mendapatkan hal yang sama. Hingga satu masa Awan sadar kalau cinta yang ia tunggu ternyata takkan pernah hadir. Ia tidak merasa usahanya selama ini terbuang, tetapi ia merasa bahwa itu menjadi pelajaran. Bahwa kelak jika ia hendak mencari hati yang baru, ia harus meneruskan usaha ini. Tetapi lebih keras lagi.

Dan dengan segala rasa berat, Awan pergi meninggalkan Pelangi. Setiap orang berhak mendapatkan kebahagiaan dan setiap orang juga harus memberikan kebahagiaan itu pada mereka yang ingin dibahagiakan.

Selepas kepergian Awan, ada hal yang hilang dalam kehidupan Pelangi. Tidak ada lagi suara bising yang biasanya menemaninya sore itu. Tidak ada kata – kata manis sebelum ia tidur. Dan yang paling merasa dirindukan adalah kata – kata dari Awan, “I Love You” – 

Dalam hati, Pelangi merasa amat kehilangan. Ia merasa menyesal kenapa waktu pertama Awan mengucapkan itu aku tidak menjawabnya dengan “I Love You Too” – mungkin itu hanya 4 kata yang terdiri dari 11 huruf. Dan Pelangi tersadar, kalau sebenarnya yang dibutuhkan oleh laki – laki bukannya hanya senyuman. Tapi juga pengakuan. Ia sebenarnya ingin mengucapkan itu dari awal ketika Awan mengucapkannya. Tetapi rasa malu ini terlalu berlebihan. Ia menyesal belum sempat mengucapkan “I Love You Too”. Sekali lagi ia menyesal. Kelak, dikemudian hari aku akan menyembut kata – kata manis itu dengan hati. Bukan gengsi.

Dan satu lagi yang Pelangi dapat pelajari,
“Bahwa sesungguhnya segala hal itu terasa berharga ketika semuanya hilang dan hanya menjadi kenangan” . . . –  Dn


Ditulis Hari Minggu,
Publish : 20 Juli 2014
Based from True Story

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s